Cirebon Online

Berita Cirebon Terkini

Feed



Google




Feed



Google




Kabupaten Cirebon

Ucapan Kepala SMK Muhamadiyyah Lemahabang, Membuat Ricuh Pembagian SK Tugas Kepada Para Pendidik

ToyaCirebonOnline.com

KABUPATEN CIREBON –  Galuh Maulidin selaku Kepala Sekolah menyerahkan SK tugas mengajar kepada guru di SMK Muhamadiyyah. Namun berujung polemik. Pasalnya, berawal dari ucapan Kepala SMK Muhamadiyyah (SMKM) Lemahabang, Galuh Maulidin, saat  melakukan pembagian  Surat Keputusan (SK)  tugas mengajar kepada para pendidik, bertempat di Aula  Lantai 2 SMKM Lemah Abang. Sabtu (11/07/2020).

Pada kesempatan tersebut, Kepala SMK Muhamdiyyah Lemahabang mengatakan, “guru itu harus memiliki akhlak” spontan saja suasana rapat diruangan menjadi ricuh. Hal itu dilakukan salah seorang guru bernama Jimmy Karlsson yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghardik perkataan yang dikeluarkan Kepala SMKM. ‘’Jangan asal bicara, kami di sini semua guru memiliki akhlak, jadi jangan asal bicara, ‘’ tegasnya sambil keluar ruangan dan diikuti oleh beberapa  guru lainnya.

Kekecewaan guru ini dikarenakan di bawah kepemimpinan  Galuh Maulidin  tercipta suasana yang tidak nyaman. Ini pula yang disampaikan Jimmy, kepada Suara Cirebon . “Kami merasa dibuat tidak nyaman dengan kepemimpinan  Kepala SMK Muhamadiyah  Lemahabang ,  penyebabnya selain tidak mau menerima masukan dari kami para pendidik dan terkesan selalu mencari-cari kesalahan kami, akibatnya  saat ini ada delapan guru yang keluar dari struktur, bahkan dua guru lainnya dipecat  dengan alasan keterbatasan anggaran, alasan pemecatan itu sangat tidak beralasan, jika memang keterbatasan anggaran, mengapa juga melakukan pengangkatan guru baru, ini kan sangat aneh,” ujar  Jimmy yang memegang mata pelajaran Bahasa Inggris.

Bahkan sebelumnya dalam acara yang sama, salah seorang guru lainnya,  Nurhayati (Wakasek Kubin) SMKM menyampaikan uneg-unegnya di depan forum . “Kami ingin suasana nyaman dalam melakukan tugas, dan meminta kepada pihak  Pimpinan untuk melakukan tindakan apapun harus sesuai prosedur, sementara ada beberapa rekan guru yang dikeluarkan secara sepihak oleh Kasek dengan alasan karena keterbatasan anggaran, sangat aneh hal ini terjadi, di satu sisi melakukan pemberhentian, namun di sisi lain mengangkat guru baru, sekolah ini jangan disamakan dengan pabrik yang mengangkat atau memberhentikan guru  seenaknya saja, “ ujarnya.

Persoalan tidak berhenti sampai disitu, salah seorang guru lainnya yang tidak bersedia dicantumkan identitasnya menjelaskan  pengangkatan Wakasek  itu harus sesuai dengan AD/ART Yayasan, minimal lima tahun mengabdi menjadi guru, barulah bisa diangkat menjadi Wakasek, itupun harus dilihat latar belakangnya  yang bersangkutan terlebih dahulu. “Jadi harus sesuai aturan, karena Yayasan Muhamadiyyah ini milik ummat, bukan milik segelintir orang,”’ ujarnya, yang lansung mendapat sambutan gema takbir dari seluruh guru yang hadir.

Sementara itu, Pimpinan Cabang Muhamadiyyah Kecamatan Lemahabang, Isa Ansyori, saat disinggung kericuhan yang terjadi menuturkan  dirinya menyatakan perlu sama-sama menahan diri, terkait pernyataan Kepala SMKM  Lemahabang , yang mengatakan guru tidak berakhlak, mungkin dikarenakan ada sesuatu yang memang seharusnya tidak terjadi.

“Masalah adanya  pergantian atau pengangkatan guru baru yang tidak sesuai AD/ART masih bisa dilakukan dengan alasan karena disesuaikan dengan kondisi yang terjadi, saya kira semuanya tidak ada masalah asalkan semua pihak bisa menahan diri dan berpikir jernih,” ujarnya.

Sementara saat ditanyakan adanya Wakasek yang diduga pernah tersangkut persoalan hukum,  dirinya menegaskan  persoalan hukum itu belum terbukti, selagi yang bersangkutan memang mampu menjadi Wakasek, tidak ada alasan untuk tidak memberikannya jabatan. “Namun demikian kami akan membicarakannya dengan pihak terkait lainnya,” ucapnya.

Saat didesak terkait apakah pantas seorang kepala sekolah mengeluarkan kata-kata  guru tidak berakhlak, dirinya enggan memberikan jawaban.  (*)

Spread the love

LEAVE A RESPONSE

Open chat